Perubahan iklim merupakan isu global yang menjadi perhatian utama karena dampaknya sangat luas dan beragam terhadap kehidupan manusia dan lingkungan. Isu ini terjadi akibat pemanasan global yang disebabkan oleh peningkatan emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, dan industri. Akibatnya, suhu bumi meningkat, menyebabkan perubahan iklim yang tidak menentu, termasuk kenaikan suhu rata-rata global, mencairnya es di kutub dan gletser, serta kenaikan muka air laut secara signifikan.

Perubahan iklim global telah menjadi salah satu tantangan lingkungan yang berdampak terhadap sistem alam dan kehidupan manusia. Fenomena tersebut berkontribusi terhadap kejadian cuaca ekstrem seperti banjir, kekeringan, angin topan, dan gelombang panas yang terjadi di bumi akhir-akhir ini. Wilayah pesisir sangat rentan karena kenaikan muka air laut meningkatkan risiko banjir dan kerusakan infrastruktur, serta mengancam sumber daya alam dan mata pencaharian masyarakat. Isu ini membutuhkan penanganan global melalui kebijakan mitigasi dan adaptasi, karena dampaknya tidak bisa dipisahkan dari kegiatan masyarakat secara kolektif dan lintas negara (Dasanto et al., 2022)

Perubahan iklim merupakan perubahan jangka panjang dalam pola cuaca, baik pada skala global maupun nasiona, yang meliputi peningkatan suhu udara, variasi curah hujan, serta perubahan pola angin dan siklus iklim lainnya. Salah satu aspek utama dari perubahan iklim adalah pemanasan global yang terjadi akibat meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, seperti karbon dioksida (CO₂), sehingga menyebabkan kenaikan suhu rata-rata bumi secara signifikan. Dari penjelasan singkat sebelumnya, dapat diketahui bahwa pemanasan global menimbulkan berbagai dampak perubahan iklim. Diantaranya meliputi kenaikan permukaan laut, perubahan pola curah hujan, meningkatnya frekuensi dan intensitas bencana alam seperti banjir dan kekeringan, kebakaran, tanah longsor, serta kerusakan ekosistem bagi hewan dan tumbuhan. Kedua fenomena tersebut saling berkaitan, di mana pemanasan global merupakan faktor utama yang mendorong terjadinya perubahan iklim secara menyeluruh.

Ancaman Kenaikan Permukaan Air Laut. Sumber : Kompas.com

Kenaikan muka air laut atau sea level rise (SLR) disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu faktor global dan nasional. Secara global, peningkatan suhu atmosfer dan laut menyebabkan pemuaian air laut dan lapisan es di wilayah kutub, sehingga menyebabkan volume air laut meningkat. Secara nasional, kenaikan permukaan laut merupakan fenomena yang dipengaruhi oleh perubahan permukaan laut secara lokal, variasi pasang surut, dinamika geofisika, serta berbagai aktivitas manusia di wilayah pesisir. (Karlina dan Viana, 2020). Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko banjir rob, abrasi pantai, serta kerusakan infrastruktur dan ekosistem pesisir apabila tidak diimbangi dengan upaya mitigasi dan adaptasi yang memadai.

Banjir Rob DKI Jakarta Utara Karena Fenomena Supermoon. Sumber : SinPo.id

Mitigasi dilakukan untuk mengurangi faktor penyebab kenaikan muka air laut, terutama pemanasan global. Upaya ini mencakup penurunan emisi gas rumah kaca melalui penerapan energi bersih dan energi terbarukan, serta reboisasi dan konservasi lahan hijau, khususnya di wilayah pesisir, guna menekan peningkatan suhu global. Sementara itu, adaptasi dilakukan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh kenaikan muka air laut, antara lain melalui pembangunan infrastruktur perlindungan pantai seperti tanggul dan sabuk mangrove, penataan ruang berbasis risiko bencana pesisir, serta pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan guna mencegah banjir, erosi, dan intrusi air laut. Strategi mitigasi dan adaptasi tersebut dinilai penting untuk meningkatkan ketahanan wilayah pesisir terhadap ancaman kenaikan muka air laut (Shalsabilla et al., 2022).

Gerakan Masyarakat Pesisir Berpartisipasi Jaga Kelestarian Laut. Sumber : ANTARA NEW

Kenaikan permukaan air laut yang diakibatkan perubahan iklim menimbulkan berbagai bahaya serius, seperti banjir rob yang semakin sering, abrasi, mundurnya garis pantai, hilangnya lahan pemukiman dan pertanian, pergerakan air laut ke sumber air tawar, serta kerusakan ekosistem pesisir seperti mangrove dan tambak. Dampak ini tidak hanya merugikan secara fisik, tetapi juga secara sosial dan ekonomi karena dapat mengganggu mata pencaharian masyarakat pesisir dan meningkatkan risiko kemiskinan serta perpindahan penduduk.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, masyarakat memiliki peran penting melalui aksi yang nyata. Tindakan yang dapat masyarakat lakukan diantaranya seperti mengurangi emisi gas rumah kaca dengan cara menghemat energi, menggunakan transportasi ramah lingkungan, mengurangi penggunaan sampah plastik, serta melakukan reboisasi dan pelestarian pohon. Selain itu, masyarakat dapat berpartisipasi dalam rehabilitasi mangrove, menjaga ekosistem pesisir dari kerusakan, tidak membangun di zona rawan abrasi, serta aktif dalam perencanaan tata ruang dan sistem peringatan dini. Dengan keterlibatan aktif masyarakat bersama pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya, dampak kenaikan muka air laut dapat diminimalkan dan ketahanan wilayah pesisir dapat ditingkatkan secara berkelanjutan.

Sumber :

Dasanto, B. D., Sulistiyanti, S., Anria, A., & Boer, R. (2022). Dampak perubahan iklim terhadap kenaikan muka air laut di Wilayah Pesisir Pangandaran. Risalah Kebijakan Pertanian dan Lingkungan Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan, 9(2), 82-94.

Shalsabilla, A., Setiyono, H., Sugianto, D. N., Ismunarti, D. H., & Marwoto, J. (2022). Kajian fluktuasi muka air laut sebagai dampak dari perubahan iklim di perairan Semarang. Indonesian Journal of Oceanography, 4(1), 69-76.

Disusun Oleh:
Digital Education and Communication Staff