Pemanasan global merupakan salah satu isu lingkungan paling krusial saat ini akibat meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca, terutama karbon dioksida (CO₂), di atmosfer. Aktivitas manusia seperti deforestasi, pembakaran bahan bakar fosil, dan alih fungsi lahan telah mempercepat laju perubahan iklim. Oleh karena itu, diperlukan langkah nyata untuk mengurangi tekanan terhadap lingkungan, salah satunya melalui pemanfaatan ekosistem karbon biru sebagai solusi berbasis alam (nature-based solutions).

Penebangan hutan bakau. Sumber: BBC Indonesia

Indonesia memiliki potensi karbon biru yang sangat besar. Berdasarkan Peta Mangrove Nasional tahun 2024, luas hutan mangrove di Indonesia mencapai sekitar 3,44 juta hektar dan sekitar 293.464 hektar padang lamun yang telah divalidasi oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Secara global, ekosistem pesisir Indonesia diperkirakan menyumbang sekitar 17% dari total stok karbon biru dunia, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan potensi penyimpanan karbon biru terbesar di dunia. Namun, keberlanjutan ekosistem mangrove di Indonesia menghadapi tantangan serius akibat tekanan pembangunan pesisir, konversi menjadi tambak, reklamasi, dan pencemaran. Data menunjukkan bahwa lebih dari 40% kawasan mangrove di Indonesia mengalami degradasi dengan tingkat kerusakan tertinggi di wilayah Kalimantan dan Sumatra (Macreadie et al., 2022).

Blue Carbon. Sumber: USGS

Karbon biru merupakan istilah bagi karbon yang diserap dan disimpan di ekosistem pesisir dan laut seperti mangrove, padang lamun, dan semak rawa pasang surut (Diva, 2024). Ekosistem ini efektif menyerap dan menyimpan karbon dalam jangka panjang, sehingga mampu menurunkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer dan menekan laju pemanasan global. Oleh karena itu, perlindungan dan rehabilitasi ekosistem karbon biru menjadi bagian penting dalam strategi mitigasi perubahan iklim di tingkat nasional maupun global.

Proses pemanfaatan ekstrak kulit mangrove sebagai pewarna (Sumber: Batik TV)

Selain manfaat ekologis, ekosistem karbon biru juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat pesisir, antara lain melalui perikanan, pariwisata, dan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan (Jang dan Wiwiek, 2023). Dengan potensi yang besar tersebut, pengelolaan karbon biru secara berkelanjutan perlu terus diperkuat agar dapat berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir di masa depan.

Melindungi dan memulihkan ekosistem karbon biru seperti mangrove dan padang lamun merupakan langkah nyata untuk menekan pemanasan global sekaligus menjaga kesejahteraan masyarakat pesisir. Dengan menjaga pesisir dari kerusakan, mendukung rehabilitasi ekosistem, dan menerapkan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, kita dapat berkontribusi langsung dalam mengurangi emisi karbon dan mewariskan lingkungan yang sehat bagi generasi mendatang.

Sumber:

Jang dan Wiwiek. 2023. Karbon Biru di Indonesia: Memahami Pentingnya Konservasi dan Restorasi untuk Mencapai Netralitas Karbon. SELISIK, 9 (1): 19-22.

Macreadie, P. I., et al. (2022) ‘Operationalizing marketable blue carbon’, One Earth, 5(6), pp. 635–648. https://doi.org/10.1016/j.oneear.2022.04.005

Diva, F. (2024). Peran blue karbon sebagai solusi berkelanjutan untuk penyerapan karbon di wilayah pesisir. Maliki Interdisciplinary Journal, 2(8), 377-382.

Maritim Muda Nusantara
Instagram : maritimmuda.id
Youtube : Maritim Muda Channel
Website : www.maritimmuda.id