Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan 16.771 pulau yang telah diverifikasi pada tahun 2021. Pada tahun 2014 mantan Presiden Joko Widodo menggagas agenda Poros Maritim Dunia (PMD) sebagai upaya memperkuat kedaulatan dan posisi Indonesia di ranah kemaritiman global (Manggala & Airlangga, 2025). Dengan dua pertiga wilayahnya berupa lautan dan lokasi geografis yang berada di antara Benua Asia dan Benua Australia dan diapit oleh Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.

Peta wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit(Wikimedia Commons). Source: kompas.com

Potensi kelautan Indonesia tercermin dari luas wilayah laut sekitar 70% dan garis pantai ±95.181 km yang didominasi oleh destinasi bahari. Kawasan seperti Karimunjawa, Kepulauan Seribu, Raja Ampat, Takabonerate, Wakatobi, Bunaken, Pulau Weh, dan Belitung menunjukkan kekayaan terumbu karang, mangrove, padang lamun, serta lebih dari 3.000 jenis ikan hias. Berbagai agenda seperti Sail Indonesia dan Festival Takabonerate semakin memperkuat daya tarik sektor ini, meskipun pengembangannya tetap memerlukan strategi terencana, perlindungan lingkungan, dan partisipasi aktif masyarakat lokal.

Wisata bahari muncul sebagai sektor yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah. Kekayaan ekosistem laut Indonesia menjadi daya tarik utama yang tidak hanya berorientasi pada rekreasi, tetapi juga konservasi dan pemberdayaan masyarakat pesisir (Eissn, 2024). Konsep wisata konvensional dengan mengintegrasikan program transplantasi terumbu karang, pengelolaan sampah laut, edukasi lingkungan, hingga inovasi seperti wisata kuliner seafood, marine spa, fotografi bawah laut, serta pemanfaatan teknologi VR dan aplikasi digital. Peran pemerintah, masyarakat, dan industri menjadi kunci agar potensi ini dikelola secara berkelanjutan. Salah satu contoh terdapat di Pulau Tunda yang terletak di Laut Jawa bagian utara Teluk Banten. Pulau ini menawarkan pantai indah, terumbu karang menawan, serta perairan yang cocok untuk snorkeling, diving, dan wisata berlayar. Selain kekayaan alam, tradisi nelayan, kesenian lokal, dan kuliner khas menjadi nilai tambah yang menghadirkan pengalaman autentik bagi wisatawan (Dewi dkk., 2025).

Salah satu potret kondisi terumbu karang di Pulau Tunda. Source: greenpeace.org

Trend pariwisata mulai bergeser dari model mass tourism menuju pengalaman yang lebih autentik, berkelanjutan, dan berbasis masyarakat (Community-Based Tourism/CBT). Kawasan Asia-Pasifik mendominasi pasar pariwisata dunia hingga 2032 yang didorong oleh populasi manusia, peningkatan pendapatan, serta perbaikan infrastruktur. Komitmen terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan ke-14 tentang pelestarian ekosistem laut, turut memperkuat arah ini. Salah satu contoh wilayah di Indonesia yang mengimplementasikan community based tourism terdapat di Sumatera Barat, disana terdapat pengelolaan desa wisata konservasi penyu dan mangrove yang dikelola oleh masyarakat desa tersebut yang diharapkan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat lokal setempat (Zis dkk., 2025).

Sedang melakukan penanaman bibit mangrove di kawasan konservasi penyu di Ampiang Parak, Pesisir Selatan. Source: sumbar.antaranews.com

Pengembangan wisata bahari tidak terlepas dari berbagai tantangan seperti keterbatasan infrastruktur, degradasi lingkungan akibat perubahan iklim dan sampah laut, keterbatasan manajemen SDM, marketing wisata, keamanan dalam berkunjung destinasi wisata, dan payung hukum yang menjamin kenyamanan wisatawan. Apabila tidak dikelola secara baik, berbagai hambatan tersebut berpotensi menurunkan citra destinasi sekaligus menghambat arus investasi (Eissn, 2024).

Strategi menuju wisata bahari berkelanjutan dimulai dari penguatan tata kelola dan regulasi, termasuk penetapan daya dukung kawasan, sistem zonasi, serta penerapan standar operasional ramah lingkungan untuk mencegah kerusakan terumbu karang, mangrove, dan ekosistem pesisir lainnya. Upaya konservasi perlu diiringi dengan pengelolaan limbah yang efektif, pembatasan penggunaan plastik sekali pakai, serta penerapan konsep zero waste tourism di destinasi bahari.

Keterlibatan masyarakat lokal yang menjadi salah satu kunci utama dalam wisata bahari berkelanjutan. Contohnya diadakan pelatihan pemandu wisata dari warga setempat, serta penguatan UMKM pesisir agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat lokal, bukan hanya oleh investor. Di sisi lain, model bisnis pariwisata perlu diarahkan menuju konsep ekonomi biru, misalnya dengan menggunakan energi terbarukan, mengembangkan produk ekowisata, dan menerapkan sertifikasi destinasi ramah lingkungan. Selain itu, melakukan sosialisasi kepada wisatawan tentang perilaku yang bertanggung jawab selama berwisata, serta pemanfaatan teknologi untuk memantau kondisi lingkungan yang akan semakin memperkuat wisata keberlanjutan. Dengan strategi yang terintegrasi, wisata bahari tidak hanya menjadi sumber pendapatan, tetapi juga sarana untuk menjaga kelestarian laut bagi generasi mendatang.

Pada akhirnya, keberhasilan wisata bahari menuntut kolaborasi di berbagai pihak yang meliputi pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat. Dukungan kebijakan, kepastian hukum, perbaikan infrastruktur, pendanaan CSR, pendampingan inovasi, hingga penguatan peran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) menjadi elemen penting. Dengan sinergi yang kuat, wisata bahari berpotensi menjadi pembangunan ekonomi nasional sekaligus menjaga kelestarian laut Indonesia sebagai warisan bagi generasi mendatang (Riyanto & Vadra, 2024).

Maritim Muda Nusantara
Instagram: maritimmuda.id
YouTube: Maritim Muda Channel
Website: www.maritimmuda.id

Di susun oleh:
Digital Education and Communication Staff