Di balik pesisir Indonesia, kehidupan nelayan menunjukkan kedekatan yang kuat dengan laut hingga mereka kerap dijuluki “penjaga laut”. Dalam kesehariannya, nelayan mengandalkan peralatan sederhana berupa jaring dan bubu guna menangkap ikan, kerang, dan kepiting. Bagi masyarakat pesisir, laut bukan hanya tempat bekerja, tetapi sumber kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, kondisi ini mulai berubah akibat krisis iklim dan penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan seperti trawl yang menyebabkan hasil tangkapan menurun. Dampaknya, pendapatan nelayan yang hanya berkisar Rp50.000–Rp100.000 per hari semakin menekan kondisi perekonomi mereka. Dalam menanggulangi situasi ini, wisata bahari mulai dilirik sebagai alternatif sumber penghasilan yang sekaligus memberi ruang pemulihan bagi ekosistem laut (Mongabay Indonesia, 2025).

Nelayan sedang memikul hasil tangkapan ikan tuna di Pelabuhan tradisional di Kedonganan, Badung, Bali. Sumber Foto: A. Asnawi/Mongabay Indonesia

Penurunan hasil tangkapan, ketidakpastian cuaca, serta fluktuasi harga ikan mendorong transformasi mata pencaharian nelayan. Ketergantungan tinggi pada hasil laut membuat ekonomi masyarakat pesisir rentan, terutama saat musim paceklik. Di tengah kondisi tersebut, meningkatnya minat terhadap wisata bahari membuka peluang baru melalui aktivitas seperti snorkeling, mancing, dan wisata budaya pesisir. Transformasi ini didukung oleh program pemerintah melalui pengembangan desa wisata, dibentuknya kelompok sadar wisata (Pokdarwis), serta penyediaan fasilitas pendukung destinasi wisata untuk menciptakan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan yang berkunjung.

Salah Satu WIsata Bahari yaitu Memancing di Laut. Sumber Foto: Havid Adhitama/Northbackpacker

Seiring berkembangnya sektor wisata, masyarakat nelayan mengalami perubahan keterampilan dan pola kerja. Mereka tidak lagi hanya bergantung pada aktivitas penangkapan ikan, tetapi juga diharapkan untuk dapat menguasai kemampuan baru seperti menjadi pemandu wisata, pelayanan wisata, serta bahasa asing. Selain itu, perahu tangkap mulai dialihfungsikan menjadi sarana transportasi wisata. Perubahan ini meningkatkan interaksi nelayan dengan wisatawan, meskipun dalam prosesnya masih terdapat tantangan, seperti keterlibatan masyarakat yang belum merata. Oleh karena itu, pelatihan dalam bidang pelayanan, manajemen usaha, pemasaran digital, dan edukasi lingkungan menjadi penting agar masyarakat mampu beradaptasi secara optimal (Wani dkk., 2025; Hermawan, 2024).

Dampak transformasi ini terlihat pada peningkatan ekonomi masyarakat pesisir, seperti di Pulau Gelasa. Diversifikasi usaha ke sektor wisata membuat pendapatan lebih stabil dan meningkat hingga sekitar 65 persen. Selain itu, muncul efek pengganda ekonomi yang mendorong berkembangnya usaha turunan seperti kuliner seafood, homestay, jasa pemandu wisata, dan operator perahu wisata (Wani dkk., 2025).

Perubahan tersebut juga diikuti oleh pergeseran identitas profesi masyarakat nelayan menjadi pelaku usaha wisata. Interaksi dengan wisatawan membuat masyarakat lebih terbuka, tetapi juga memunculkan kekhawatiran terhadap pergeseran nilai tradisional dan semangat gotong royong. Transformasi ini turut melibatkan perempuan dan generasi muda, meskipun mereka menghadapi tantangan budaya akibat pengaruh gaya hidup wisatawan. Selain itu, sektor wisata masih menghadapi kendala seperti ketergantungan pada musim kunjungan, cuaca, serta keterbatasan keterampilan. Oleh karena itu, pembinaan berkelanjutan diperlukan agar masyarakat mampu mengelola pariwisata secara profesional sekaligus menjaga nilai budaya dan lingkungan (Aldiansyah & Jamil, 2024).

Dalam jangka panjang, pengembangan pariwisata bahari perlu berlandaskan prinsip keberlanjutan agar tidak merusak ekosistem laut. Hal ini memerlukan regulasi yang jelas serta kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, dengan peran aktif komunitas lokal dalam pengelolaan wisata. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia juga penting agar peluang ekonomi dapat dimanfaatkan tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. (Adhiyaksa & Sukmawati, 2021)

Di sisi lain, transformasi ini juga membawa tantangan sosial budaya. Interaksi intens dengan wisatawan berpotensi menggeser nilai lokal, seperti berkurangnya gotong royong dan munculnya orientasi ekonomi individual. Oleh karena itu, pengembangan pariwisata perlu diimbangi dengan penguatan nilai budaya dan kontrol sosial. Dengan demikian, pariwisata sebaiknya diposisikan sebagai pelengkap, bukan pengganti utama, agar keberlanjutan laut sebagai sumber kehidupan masyarakat nelayan tetap terjaga. (Aldiansyah & Jamil, 2024)

Maritim Muda Nusantara
Instagram: maritimmuda.id
YouTube: Maritim Muda Channel
Website: www.maritimmuda.id

Di susun oleh:
Digital Education and Communication Staff