Laut selama ini dianggap sebagai ruang luas yang mampu meredam berbagai aktivitas manusia. Namun dibalik permukaannya yang tampak tenang, laut kini menyimpan ancaman baru yang nyaris tak kasat mata yaitu mikroplastik. Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran sangat kecil, dengan diameter lebih kurang dari 5 mm. Meskipun berukuran mikroskopis dan sulit terdeteksi secara visual, mikroplastik kini telah tersebar luas di lingkungan laut dan bahkan teridentifikasi dalam tubuh manusia. Partikel ini berasal dari degradasi plastik berukuran besar akibat paparan sinar matahari dan proses mekanis, serta dari produk yang sejak awal dibuat dalam ukuran mikro, seperti kosmetik dan serat tekstil sintetis.
Seiring meningkatnya penggunaan plastik di daratan, sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik akan hancur perlahan akibat sinar matahari dan gesekan. Potongan plastik berukuran kecil ini kemudian terbawa aliran sungai hingga akhirnya bermuara dan menumpuk di laut. Ukurannya yang sangat kecil membuat mikroplastik sulit disaring oleh sistem pengolahan limbah, sehingga laut menjadi “tempat akhir” penumpukan pencemaran plastik dari berbagai aktivitas manusia.

Temuan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terbaru menunjukkan bahwa pencemaran mikroplastik tidak hanya terjadi di laut dan daratan, tetapi juga telah mencapai lapisan atmosfer. Penelitian terbaru di Indonesia mengungkapkan bahwa mikroplastik ditemukan dalam air hujan, yang berasal dari partikel plastik di udara seperti serat tekstil sintetis, debu kendaraan, dan degradasi plastik di lingkungan perkotaan. Partikel mikroplastik tersebut terbawa ke atmosfer dan kemudian turun kembali ke permukaan bumi melalui hujan, sehingga memperluas jalur penyebaran mikroplastik ke tanah, perairan, dan ekosistem lainnya.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik kini telah menyebar hampir di seluruh bagian ekosistem laut, mulai dari air laut, dasar perairan, terumbu karang, hingga masuk ke dalam tubuh berbagai biota laut. Menurut penelitian Purwiyanto et al. (2025) mencatat bahwa mikroplastik ditemukan lintas ekosistem perairan di Indonesia, baik di wilayah pesisir, estuari, maupun laut terbuka. Temuan ini menegaskan bahwa pencemaran mikroplastik bukan lagi isu lokal, melainkan persoalan ekologis berskala luas.
“Mikroplastik tidak hanya berperan sebagai polutan fisik, tetapi juga sebagai pembawa berbagai zat berbahaya yang dapat memperparah degradasi kualitas lingkungan perairan,” (Purwiyanto et al., 2025).
Dampak mikroplastik tidak berhenti pada ekosistem laut, tetapi juga berdampak langsung terhadap manusia. Konsumsi makanan laut yang terkontaminasi menjadi salah satu jalur utama masuknya mikroplastik ke dalam tubuh manusia. Mikroplastik menurunkan keamanan pangan karena dapat masuk ke tubuh ikan dan biota laut lainnya. Saat makanan laut yang terkontaminasi dikonsumsi manusia, mikroplastik dan zat berbahaya yang menempel padanya ikut masuk ke dalam tubuh, sehingga berisiko mengganggu kesehatan.
“Paparan mikroplastik secara terus-menerus dapat memicu peradangan dan mengganggu fungsi fisiologis tubuh, sehingga menjadi ancaman serius bagi kesehatan jangka panjang,” (Ischak & Arviani, 2023).

Penumpukan mikroplastik di dalam tubuh manusia dapat menyebabkan efek berbahaya bagi kesehatan. Bahkan, mikroplastik dapat memicu kanker serta merusak organ-organ vital seperti paru-paru, saluran pencernaan, hati, ginjal, dan sistem peredaran darah dalam jangka panjang. Hal ini menegaskan bahwa mikroplastik bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian serius.
Oleh karena itu, saatnya kita bersama mengambil peran nyata dalam menjaga laut. Mulai dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mengelola sampah secara bertanggung jawab, serta memilih produk yang ramah lingkungan. Perubahan kecil dari kebiasaan sehari-hari memiliki dampak besar, sebab meskipun mikroplastik tak kasat mata, ancamannya sangat nyata. Menjaga laut hari ini bukan hanya tentang lingkungan, tetapi juga tentang melindungi kesehatan manusia dan menjamin masa depan generasi mendatang.

Source:
Badan Riset dan Inovasi Nasional (2025). Air Hujan Jakarta Mengandung Mikroplastik, BRIN Ingatkan Bahaya Polusi dari Langit. diakses dari https://www.brin.go.id/news/125226/air-hujan-jakarta-mengandung-mikroplastik-brin-ingatkan-bahaya-polusi-dari-langit
Ischak, N. I., & Arviani, A. (2023). Sosialisasi Bahaya Paparan Mikroplastik Terhadap Kesehatan Pangan Masyarakat. Damhil: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 2(2), 61-66.
Purwiyanto, A. I. S., Putri, W. A. E., Melki, M., Barus, B. S., & Suteja, Y. (2025). Persebaran Mikroplastik di Lintas Ekosistem Sumatera Selatan. Buletin Oseanografi Marina, 14(3), 393-402.
Maritim Muda Nusantara
Instagram : maritimmuda.id
Youtube : Maritim Muda Channel
Website : www.maritimmuda.id